Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juli 2017

Ibu, Aku Takut menjadi Seorang Guru


Oleh Friska

Delapan belas tahun usia ku telah kulalui melihat secuil hingar bingar dunia ini. Aku hanyalah seorang anak desa biasa, yang jauh dari pusat kota. Anak desa yang mempunyai impian yang sederhana yakni menjadi seorang guru. Entah mengapa, bagi diriku yang notabenenya anak desa menjadi guru adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Sama halnya dengan anak-anak lain yang ketika ditanya tentang cita-cita mereka, aku selalu mantap dengan penuh kepercayaan dan kulantangkan suaraku bahwasanya aku sangat ingin menjadi guru. Bagiku menjadi guru seperti mempunyai daya tarik tersendiri sama halnya ketika anak-anak seusiaku melantangkan cita-citanya menjadi dokter, pilot, perawat bahkan seorang artis.
            Kulangkahkan kaki menyusuri jalanan kota istimewa ini, mataku melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalanan yang sangat padat. Aku berjalan di bawah langit yang sedang gerimis, jalanku masih santai saja. Menikmati rintik-rintik yang menetes di bajuku. Ada rasa senang, teringat masa kecil yang selalu berlarian dengan teman-teman sebaya saat hujan turun. Pikiranku melayang pada masa lalu, masa-masa yang terkadang mengundang tangis di mata ini. Rasanya senang ketika harus berjalan dibawah rintik hujan, aku bisa bebas menangis tanpa ada yang tahu bahwa sejatinya aku menangis. Perlahan-lahan, aku berjalan menuju shelter bus, mengeluarkan selembar uang lima ribuan dari dompet lusuhku. Menanti bus yang mengantarkanku ke terminal. Berdiri di salah satu sudut shelter sambil terus menatap rintik hujan yang semakin deras turun didepanku. Di depanku, ada sekelompok anak muda yang usianya mungkin masih belasan tahun, muka-mukanya masih terlihat bahwa mereka duduk di bangku SMA. Mereka berempat asyik bercerita tentang aktivitas sekolahnya pagi tadi. Mereka asyik bercerita perkara akan melanjutkan kemana setelah masa putih abu-abu itu. Rasanya pengin nangis saat mengingat masa-masa itu. Masa-masa dulu aku sering curhat perkara kemana aku melanjutkan perjalanan mencari ilmu ini. hingga akhirnya aku sampai pada titik ini, titik dimana saat rasa tangis sudah selalu menyertai, titik dimana saat rasanya ingin sekali melihat tulisan “Selamat Anda Di terima di .....”, titik dimana perjuangan doa dan usaha yang tak kalah hebatnya, titik dimana harus mengeluarkan uang lebih dari yang ditargetkan, titik dimana harus bolak-balik Jogja-Banyumas, titik dimana aku sangat menghargai apa itu artinya perjuangan. Dan, pada akhirnya aku dinyatakan lolos sebagai mahasiswa mandiri di salah satu universitas di kota pelajar ini. Entah bahagia atau apa rasanya, sampai sekarang aku tak tahu untuk perkara yang satu itu. Sampai sekarang aku masih mencari rasa apa yang seharusnya ada dalam hidupku saat ini.
            Ku dengarkan cerita mereka, rasanya seperti mendengar cerita sendiri. Terbayang akan masa lalu. Terbayang akan masa-masa menjatuhkan pilihan saat itu. Pikiranku melayang pada sembilan bulan terakhir ini, masa-masa yang menyenangkan juga menyedihkan. Sedih rasanya mengenang masa-masa sulit menemukan tempat perkuliahan negeri. Serasa ada bulir-bulir air mata yang menetes tanpa sengaja di wajahku yang kusam ini. Serasa teringat perjuangan dulu, perjuangan daftar sana-sini, pedihnya ditolak hingga rasanya putus asa. Rasanya dunia terlalu kejam. Aku hanya tertawa kecil membayangkan semua yang dulu pernah kulalui, perihnya melalui perjuangan panjang bak seorang pejuang yang menenteng senjata mereka. Tapi, satu yang selalu kuingat dari semua perjuangan panjang ini bahwa ada mimpi yang harus diperjuangkan. Bahwa ada lelah yang harus dibayarkan sebelum senyum kebahagian tergambar diwajah orang-orang tersayang.
            Lamunanku buyar saat bus yang kutunggu akhirnya datang. Berebut satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan tempat duduk di bus, jangankan tempat duduk asal bisa berdiri saja aku langsung ikut. Kuperhatikan di sekelilingku ada sebuah bangku kosong dipojok bus ini. Disampingku ada seorang laki-laki yang usianya sekitar 40 an. Aku duduk sembari melemaskan kakiku yang rasanya mau kram ini. Ku letakkan tas punggungku di lantai bus. Aku menyandarkan punggung ke bagaian belakang kursi. Kuarahkan mataku ke luar jendela, melihat sisa-sisa gerimis yang membasahi jalanan kota ini. Suasana bus agak hening, hingga akhirnya laki-laki di sebelahku mengajakku mengangkat suara. Ya, lebih tepatnya bisa dilihat bahwa laki-laki di sebelahku ada seorang bapak yang sedang memangku anaknya. Anaknya perempuan mungkin dia masih SD sekarang, mukanya agak lusuh mungkin dia capek di jalan.
“Mbak, habis pulang kuliah ya ?”
Aku mengangguk sembari tersenyum kepada bapak berbaju merah ini. Kuperhatikan anak yang dipangkuannya. Dia pun melemparkan senyuman ke arahku sambil mengucek-ucekan matanya yang seperti sudah mengantuk itu.
“Wah, ambil jurusan apa, mbak ?”
“Ambil kependidikan, pak.”
“Keren itu, mbak. Pengen jadi guru ya, mbak ?”
“Iya, pak.” Aku tersenyum sambil mengarahkan pandangan ke anak perempuannya.
“Kenapa nggak jadi dokter apa perawat aja, mbak ? Kan gajinya lumayan, mbak. Kalau guru mah standar-standar aja, mbak.”
Aku terdiam sebentar, memikirkan kalimat apa yang seharusnya keluar dari mulutku ini. aku takut menyinggung bapak ini.
“Penginnya jadi guru, pak.” Aku tambahkan senyuman dan tawaan kecil agar suasana tidak terlalu kaku.
“Wah, kalau udah mantep dari hati itu bagus, mbak. Sekarang kalau jadi guru harus ekstra sabar, mbak. Sama muridnya juga sama orang tua nya, mbak. Ngingetin ke muridnya aja kalau ngga dengan cara halus bahaya, mbak. Bisa-bisa dibilang kekerasan dalam mengajar. Nanti ujung-ujungnya malah dituntut sana-sini, mbak.”
Aku terdiam sembari mendengarkan bapak ini bercerita padaku. Aku memang begini lebih suka mendengarkan daripada bercerita pada orang yang baru kutemui dimanapun.
“Saya punya temen, mbak. Dia seorang guru, ngajar di salah satu daerah agak jauh si dari perkotaan tapi juga ngga pelosok-pelosok amat masih di jawa lah, mbak. Rasanya saya pengen nangis kalau cerita soal dirinya. Dari dulu dia mantep banget buat jadi guru, cerdas banget orangnya, ngga nyangka aja dia akhirnya milih jadi guru. Sabar banget orangnya, dulu aja ngajarin saya sampe sayanya aja bosen dianya masih aja telaten banget. Tapi, kasihan belum lama ini dia punya pengalaman yang pahit. Malah sangat pahit kalau menurut saya, mbak. Dia ditodong golok sama bapaknya muridnya. Padahal masalahnya sepele, cuma gara-gara dia ngingetin ke muridnya suruh diem biar yang lain bisa paham sama materi yang lagi diterangin di depan. Eh, tau-taunya waktu pulang ngajar dia dihadang, dijalanan sepi lagi, ngga bisa minta tolong sama warga sekitar....”
Aku memperhatikan bapak ini, kulihat matanya berkaca-kaca menceritakan kondisi temannya. Aku yakin pasti ini bukan sekedar teman biasa.
Mengambil napas panjang bapak ini pun melanjutkan ceritanya sambil terus mengusap-usap kepala anak perempuannya.
“Akhirnya, setelah bernegosiasi dengan bapak muridnya nyawa teman saya selamat, mbak.”
Sontak saya langsung mengucap, “Alhamdulillah.”
“Tapi, ngga gratis, mbak. Dia harus membayar uang ke bapak muridnya. Padahal saya tau sendiri gimana kondisi keluarganya, rumah aja mbak kalo hujan selalu bocor sana-sini. Buat makan aja pas-pas an. Tapi, mau gimana lagi demi nyawanya selamat dia harus membayar itu. Ada masa depan anak-anaknya dan istrinya yang lebih harus diperjuangkan, mbak.”
Tak kusadari ternyata ada bulir-bulir air mata yang menetes pada wajah bapak ini. Tubuhku merinding mendengar semua itu. Apa begitu semengerikan dunia mengajar ini ?
“Tapi, tenang aja, mbak. Ngga semua orang tua murid seperti itu kok, mbak. Banyak dari mereka yang mengerti bahwa menyanyangi anaknya bukan dengan memanjakannya. Sebenernya temen saya juga ngga salah si, cuma si bapaknya aja yang keterlaluan. Dia ngingetin kan juga buat kebaikan anaknya biar bisa paham sama pelajarannya. Biar jadi anak yang pinter. Sampai sini aja ya, mbak cerita-ceritanya. Jangan takut buat maju terus sama cita-citanya, mbak. Semangat buat jadi calon guru, mbak. Bapak doakan semoga sukses selalu, mbak.” Tersenyum sambil menggendong anaknya dan membawa tas di tangan satunya lagi.
Mataku terus memperhatikan bapak itu sampai akhirnya si bapak turun di salah satu shelter bus dan menghilang ditengah kerumunan penumpang-penumpang yang lain. Aku masih saja terpaku dengan cerita yang bapak itu ceritakan. Memang sebenarnya ada rasa takut yang menyelimuti hatiku, ada rasa bimbang dalam jiwaku, ada rasa ragu dalam cita-citaku kali ini. Rasanya ingin cepat sampai rumah dan memeluk Ibu serta menceritakan apa yang telah ku dengar ini. Aku terdiam sembari melihat tetesan-tetesan gerimis yang menetes di kaca bus yang kutumpangi ini. Pikiranku entah melayang kemana saja kali ini.
**
Jam telah menunjukkan pukul 19.30, bus yang kutumpangi masih saja meluncur ke tempat asalku. Masih kupandangi ke luar jendela bus. Begitulah diriku, yang selalu senang melihat sesuatu ke luar. Lebih suka merasa daripada bercerita. Orang bilang diriku ini introvert tapi ya mau gimana lagi, inilah diriku yang nyaman dengan kondisi saat ini. Tapi, entah mengapa cerita bapak itu masih saja membuatku ragu, masih saja membuat takut dan masih saja membuat rindu dengan kata-kata yang menenangkan dari ibuku. Ah, aku pengin cepet sampai ke rumah, rindu untuk memeluk ibu sepuasku.
Bus pun akhirnya berhenti tepat di gang masuk rumahku. Kususuri jalanan yang sudah agak sepi, dengan penerangan seadanya. Dan, kini pikiranku hanya satu, yaitu pada cerita bapak itu. Ingin rasanya mendapat pencerahan yang menguatkan diriku lagi setelah ini. Berharap aku akan mendapatkannya dari Ibu nanti.
Ku ketuk pintu rumah, ku ucapkan salam. Terdengar balasan dari balik pintu. Suara ibu sudah terdengar dari balik pintu ini. Begitu pintu terbuka, aku langsung menghambur memeluk bapak dan ibu ku. Ku cium mereka semua. Rasanya jarang-jarang aku seperti ini. Hidup di kota orang membuat diriku menyimpan terlalu banyak rindu untuk mereka semua.
Selepas melepas kangen dengan mereka semua, menjadi kebiasaanku masuk kamar dan melihat sekeliling kamar. Rapi, ya siapa lagi yang merapikannya kalau bukan bapak dan ibuku. Ku lihat beberapa lembar tulisan tanganku yang sengaja ku tempel di tembok kamarku. Semacam penyemangat bagi diri sendiri saat bahagia maupun di saat lelah menyapa.
Setelah puas bernostalgia dengan kamarku, aku melihat ibu sedang menonton televisi sendiri di ruang tengah. Aku langsung duduk di samping ibu sambil memperhatikan acara televisi yang sedang ditontonnya. Tiba-tiba, aku pindah posisi sambil tiduran di kasur lantai berbantalkan kaki ibu. Aku bercerita mengenai hal-hal kecil yang terjadi di kampus. Kuceritakan semuanya dari a sampai z. Hingga akhirnya rasa penasaranku dengan cerita bapak itu pun keluar dari mulutku yang tiba-tiba menjadi cerewet ini.
“Bu, kok aku jadi takut ya kalo jadi guru ?”
“Lho kok takut, emangnya kenapa ? Takut sama muridnya ?”
Aku mengangguk. Dan, ibu pun tertawa tapi entah karena anggukan diriku apa karena sinetron yang sedang ditontonnya.
“Sama murid kok takut ? Murid kan jadi bahanmu, bahan buat menularkan ilmu yang kamu punya, nduk.”
Aku masih saja tersenyum, belum mau mengungkap apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku saat ini.
“Ibu ngga tau apa saja yang sudah kamu lalui di luar sana, nduk. Apa yang omongan yang telah kamu tangkap dengan telingamu, apa saja yang telah membuatmu takut dan ragu dengan keyakinanmu. Dan, yang jelas takutmu ngga beralasan, nduk.” Sambil mengusap-usap kepalaku.
“Bu, sekarang kalo jadi guru emang ngeri banget ya ?”
“Ngeri kenapa ? Cerita aja, nduk. Biar hatinya lega. Ayo, cerita sama ibu.”
“Gini loh, bu. Tadi pas pulang naik bus ada bapak-bapak cerita soal guru. Pokoknya ceritanya ngeri lah, bu. Sampe harus bertarung sama nyawanya gara-gara ngingetin muridnya, bu. Padahal kan itu udah jadi kewajiban guru, bu.”
“Nduk, kalo dapet cerita jangan langsung diserap mentah-mentah. Diambil buat dijadiin pembelajaran bukan buat dijadiin alasan memperkuat rasa takutmu. Jadi, guru itu tugas mulia. Perkara mengajar itu sulit, nduk. Ngga semua orang bisa melakukannya. Banyak yang jadi guru tapi banyak juga yang ngajar ngga pake hati. Kalo namanya udah sreg mau gimanapun tetap kuat sama pendiriaannya. Bukti orang yang kamu ceritain itu tetap jadi guru kan, walaupun nyawanya pernah jadi taruhannya. Sama dengan kamu, sekarang kamu harus menguatkan pendiriannmu, menguatkan impianmu. Ngga boleh gampang goyah hanya karena angin terpaan kecil. Justru harusnya jadi bahan pembelajaran, nduk. Mengajar membuat kita mengerti akan dunia mereka, membuat kita mengerti akan kepercayaan para orang tua yang menitipkan anaknya pada kita. Membuat kita belajar dari mereka, yang selalu tersenyum lepas tanpa beban, yang harus menjalani kehidupan ini dengan senyuman. Yakinkan dirimu lagi, nduk buat berproses menjadi guru. Bukan hanya sekedar guru saja tapi mampu menjadi panutan dan teladan yang berkharisma di depan murid-muridmu kelak. Semangat berproses, nduk.  Ibu selalu mendoakan yang terbaik buat anak ibu yang satu ini.”
Aku bangkit dari posisiku lalu memeluk ibu. Sambil terharu mendengar kata-kata ibu yang selalu menancap kuat dalam hati. Terima kasih ibu atas segala nasihatnya. Aku sayang Ibu.
Hingga pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah penguatan dari dalam diri sendiri. Bahwa mengenai tugas seorang guru adalah tugas mulia, tugas yang berat, karena lewat gurulah calon-calon pemimpin bangsa akan dibentuk. Lewat karakter yang selalu ditanamkan, lewat etika, moral dan akhlak yang selalu ditekankan. Semoga akan bisa berproses menjadi guru yang menginspirasi dan memotivasi untuk selalu bergerak kearah kebaikan.
~SELESAI~

Share:

Sabtu, 13 Mei 2017

Sepotong Kisah dari Hujan





Ro memilih menyerah. Ini sudah sekian kalinya ia berusaha maksimal, namun semuanya masih terus sama. Ini berat,tetapi terlalu berat untuk terluka terus-terusan. Mereka memang sudah tak sejalan. Terlalu banyak hal yang bertolak belakang hingga membuat mereka sulit menjadi sama.
"Jadi, beginikah akhirnya?"
Ro masih diam seribu bahasa. Otaknya sedang berkecamuk tidak karuan.
"Tak adakah cara lain untuk menyelesaikan ini?" ia masih penuh harap
Tak ada sepatah kata pun yang mampu diutarakan Ro. Ia masih terus bungkam dan mengalihkan pandangannya ke lain arah. Pria itu pun ikut diam. Tak lagi ada sepatah kata pun yang mampu ia katakan. Pandangannya juga terus dialihkan ke depan. Tidak ada interaksi yang terjadi di antara mereka selama beberapa menit. Semua memilih untuk bertahan pada kebungkaman masing-masing.
"Mari, kita bicara sambil berjalan saja." ajak pria itu beranjak dari kursi
Ia pun memilih jalan lebih dulu. Tidak ada pilihan lain, hingga Ro memutuskan untuk bangkit dan mengikutinya dari belakang. Mereka pun mulai meninggalkan kursi taman itu. Sepatah kata pun bahkan tidak terlontar sepanjang mereka berjalan.
"Kita sering mengunjungi taman ini, namun kita tak pernah sekali pun berjalan mengitarinya. Lucu, ya?" kata pria itu sambil tersenyum
"Meskipun kita harus mengitarinya dengan keadaan seperti ini, aku sungguh tak pernah menyesalinya."
Ro menghentikan langkahnya, "Zis?" sebut Ro
Azis menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya, "Ssstt!" kata pria yang bernama Azis itu
"Mari kita selesaikan satu-satu. Untuk saat ini, hal pertama yang harus kita selesaikan adalah mengitari taman ini." Azis berjalan lagi
Ro mengalah dan memilih mengikuti kemauan Azis. Tidak menyenangkan memang, namun ia harus tetap menghormati perasaan Azis. Langkah demi langkah yang mereka pijakkan, akhirnya membawa mereka ke kembali ke kursi tadi. Azis sempat berdiam agak lama di depan kursi itu. Ia bahkan menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ro berusaha bersabar dan tidak mengatakan apa-apa. Beberapa saat kemudian, Azis terdengar menghela napas. Entah mengapa Ro begitu lega mendengarnya. Azis kembali menegakkan kepalanya, pria tampan itu lalu duduk di kursi. Ro pun juga ikut duduk. Lagi-lagi mereka bungkam satu sama lain.
"Apa aku harus benar-benar melepaskanmu, Ro?" tanya Azis
"Aku juga akan melakukan hal yang sama, Zis." jawab Ro dengan nada lembut
"Aku pun juga akan mencoba untuk benar-benar melepaskanmu." pandangan Ro tertuju ke Azis
"Setelah kita bersama-sama melepaskan satu sama lain, apa kamu yakin kita akan bahagia setelahnya? Kamu yakin itu Ro?" Azis balik menatapnya
"Tidak ada yang tahu kapan kebahagiaan itu akan hadir dalam hidup ini. Mungkin kita akan bahagia, namun mungkin juga tidak." Ro mengalihkan pandangannya ke depan
"Baiklah, sekuat apapun aku berusaha meyakinkanmu bahwa melepaskan bukanlah cara yang tepat, kamu pasti tetap tidak akan mendengarkan." ujar Azis
"Zis!!" ucap Ro sedikit keras                                               
Azis terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ro menghela napas panjang. Azis terlihat putus asa. Ia juga terlihat begitu sulit untuk menerima kenyataan pahit seperti ini. Hingga membuatnya tak kuasa lagi menahan buliran air mata yang sudah ingin jatuh. Tanpa mengatakan apapun, Azis pergi begitu saja. Ro bahkan tak mampu mencegahnya. Ia pun juga ikut pergi meninggalkan kursi taman itu.
Esok harinya...
Ro kembali menuruti kemauan Azis agar mereka dapat bertemu kembali. Kali ini, lokasi pertemuan mereka pindah ke cafe tempat biasa mereka makan bersama. Ro datang tepat ketika jarum panjang menunjuk angka satu. Ro tampak begitu cantik dengan balutan baju gamis berwarna merah jambu yang dipadu dengan hijab warna biru. Azis sudah menunggunya di meja tempat mereka biasa makan. Tak kalah dengan Ro yang tampil cantik, Azis pun tampak begitu tampan dengan perpaduan kemeja panjang berwarna biru gelap dengan celana jeans berwarna hitam. Ro langsung menghampirinya. Mereka berdua tampak begitu kikuk. Azis pun langsung mengambil inisiatif untuk memesan minuman favorit mereka. Begitu pelayan itu pergi, suasana kembali hening. Namun Azis kembali mengambil iniatif lebih dulu.
"Aku pasti sudah banyak membuang-buang waktumu. Maafkan aku,Ro." ucap Azis dengan nada menyesal
"Mari kita selesaikan ini, Zis." kata Ro
"Aku tak ingin kita memilih jalan ini."
"Zis!" Ro mulai tegas
"Apa kamu tahu betapa hancurnya perasaanku ketika harus memutuskan ini? Sedikit saja, hargai perasaan kita masing-masing. Lupakan ego kita yang tak beralasan itu. Aku tidak memutuskan ini untuk membuat kita berdua menderita. Aku ingin kamu bahagia!"
"Bahkan jika takdir sekalipun yang menginginkannya, jawabanku tetap akan sama. Hingga akhir hayatku, aku akan tetap merengkuhmu!"
Ro kehabisan kata-kata. Ia terus menunduk sambil memegangi kepalanya. Buliran air mata pun jatuh membasahi pipinya. Suasana kembali hening. Azis pun juga ikut-ikutan frustasi. Semua jalan seakan tertutup untuk masalah mereka ini. Pelayan akhirnya datang membawa minuman favorit mereka.
"Minumlah ini, meskipun takkan mampu mengubah apapun, setidaknya kamu takkan dehidrasi karena terus-menerus meneteskan air mata."
Mata Ro langsung melirik tajam Azis. Meskipun dipelototi, Azis tampak santai dan tenang sekali.
"Apa terlalu berat bagimu untuk meminum ini?"
"Ayo kita selesaikan ini!"
Tatapan Ro begitu serius. Azis menanggapinya dengan senyuman.
"Apa aku terlihat seperti orang yang ingin berpisah denganmu?" tanya Azis balik
"Ini semua terlalu membuang-buang waktu." Ro langsung pergi
Azis kesal melihat ketidakmampuannya untuk mencegah wanita yang ia cintai pergi. Ia pun menghela napas berat.
Malam harinya...
Azis memberanikan dirinya untuk datang ke rumah Ro. Ia tahu hal ini tetap tidak akan berhasil untuk membujuk wanita pujaannya itu. Namun ia tidak ingin mereka berpisah. Itu bukan jalan yang tepat. Azis menekan hel rumah itu. Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu untuknya. Azis cukup terkejut ketika tahu siapa yang membuka pintu untuknya. Ia mendadak gugup. Namun tidak demikian pula dengan si pembuka pintu. Ro terlihat tidak begitu senang begitu tahu siapa tamunya.
"Maafkan aku, Ro." ucap Azis penuh penyesalan
"Aku tidak bicara denganmu sampai kamu memberikan jawaban." tegas Ro
"Apakah kamu begitu memerlukan jawaban itu?"
Ro diam.
"Tolong pikirkan cara yang lain." sambung Azis
Wanita itu enggan menjawab. Azis mulai menyerah membujuk Ro.
"Ro?" sebut Azis
"Kita akan bicara kalau kamu sudah memberikan jawaban." Ro langsung pergi dan menutup pintunya
Azis terpaksa pulang dengan tangan hampa.


To be continue...

Pengarang : Dis Yosri

Share:

Jumat, 05 Agustus 2016

Kutahu itu Kamu

Ini pertemuan kita pertama kali setelah bertahun-tahun yang lalu. Saling menatap satu sama lain dari kejauhan. Aku membisu. Tubuhku mendadak kaku. Wajahku tak berekspresi sama sekali. Otakku bahkan tak sempat memikirkan apa yang dipikirkannya. Waktu seakan mendadak lenyap. Orang-orang berlalu lalang melintas begitu saja, berlalu tanpa pernah aku peduli. Mataku tak lari kemana-mana, hanya fokus menatapnya. Waktu pun melesat tanpa makna. Aku dan dirinya masih sama-sama mematung. Jarak yang sebenarnya tidak begitu berarti, hilang maknanya menjadi berarti. Sindiran Atsa melintas di kepalaku tanpa aku sadari. 


"Kamu terlalu sibuk memikirkan orang yang bahkan mungkin tak pernah memikirkan kamu. Sementara di sisi lain, kamu mengabaikan orang lain yang selalu memikirkan kamu." 


Saat itu, aku tak begitu peduli dengan kata-katanya. Aku masih terlalu sibuk memikirkan hatiku yang hancur lebur terluka. Namun hari ini, setelah melihatnya kembali berdiri di hadapanku, di depan sebuah cafe, tempat dimana hatiku diporak-porandakan oleh seorang wanita yang kupuja siang dan malam. Sindiran Atsa melintas lagi di pikiranku. 

"Kamu tahu, yang kamu lakukan itu jahat, Juna!" Aku memekik dalam hati. Menyumpah sendiri. Mencoba mengklarifikasi atas sindiran itu. Menegaskan bahwa aku tak bersalah sama sekali. Sialnya, semakin kucoba membenarkan diriku, semakin aku tahu kalau aku salah. Wanita yang sedang berdiri tidak jauh dari pandanganku itu, hatiku membelanya mati-matian, ikut menyindir seperti Atsa.

"Situasi menyedihkan macam apa ini?" Gumamku tanpa suara 

Sindiran Atsa untuk ketiga kalinya, melintas lagi dalam pikiranku. 

 "Aku berani taruhan, bahkan jika kedua bola matamu itu melihatnya dengan jelas, tubuhmu dan tubuhnya berada tidak berjauhan dan jarak bukan lagi merupakan sesuatu yang berarti, lidahmu tetap saja akan keluh, kakimu berat untuk digerakkan dan dirimu itu, sibuk membenarkan tindakanmu sendiri. Kamu benar-benar menyedihkan!" 

Tangan-tanganku mengepal. Rahangku mengatup kuat. Wajahku mendadak merah padam. Tekanan darahku mungkin sedang diambang batas. Sindiran Atsa tadi tidak benar sama sekali. Aku tak boleh membiarkan itu menjadi realita. 

 "Aku tak seperti itu, Atsa!" Gumamku kesal dalam hati 

"Oh ya? Bahkan sekarang yang hanya bisa kamu lakukan adalah mematung seperti patung!"

Sekarang, suara-suara sindiran Atsa yang mulanya hanya melintas dalam otakku, terdengar sangat jelas di telingaku. Aku nyaris gila mendengar suara-suara sindiran Atsa yang menyebalkan itu. Kakakku itu, sukses membuatku kesal sekaligus tak tahu harus berbuat apa. 

"Ayoo Juna, langkahkan kakimu!! Apalagi yang kau tunggu??" 

Sekarang giliran diriku yang memrotes ketidakberdayaan diriku sendiri. 

 "Juna, kesempatan takkan pernah datang lebih dari ini. Hampiri dia dan jelaskan semuanya. Sebelum semua terlambat!" 

Dilema macam apa ini? Diriku memaksa diriku sendiri. Kegagalan seperti apa ini? Diriku mengendalikan diriku sendiri. Waktu terus berjalan. Orang-orang terus melintas. Mataku tetap fokus ke satu arah dan tidak pernah teralihkan ke siapapun kecuali , dia. Namun kakiku terlalu susah untuk dilangkahkan ke sana. Akhirnya, aku menghela napas panjang, sudah pasrah. Merasa lebih baik untuk pergi. Ya, harapan itu sudah hilang. Aku menundukkan kepalaku. Memasukkan kedua tanganku ke saku celana. Kakiku yang sedari tadi berat untuk melangkah, mendadak ringan ketika aku memutuskan untuk pergi. Aku sudah putus asa. Terlalu sulit rasanya untuk merendahkan ego, mengakui kesalahanku sendiri. Aku melirik ke arah cafe itu. Semua kenangan terputar ulang dalam memoriku. Ditinggalkan, meninggalkan, apakah akan menjadi sejarah buruk dari cafe ini? Aku balik menghela napas sekali lagi. 

 "Ya, mungkin memang harus begini." Gumamku tertunduk lesu 

Aku melirik ke depan lagi. Mataku terbelalak. Hatiku bertanya-tanya. Kemana dia? Kemana dia? Pertanyaan itu yang terus ditanyakan hatiku. Mataku mencari ke segala arah. Tak ada, aku tak lagi menemukan dia. Aku putus asa kali ini. Ya, harapan itu sudah benar-benar pergi. Ia takkan pernah datang lagi. Kesempatan itu sudah lenyap. Hatiku sudah melambaikan tangan sambil mengucapkan selamat tinggal. 

 "Mungkin ini akhirnya." 

Aku mengumpulkan kembali sisa semangatku, melangkah pergi dari tempat ini. 

"Halo, Juna." 

 Aku terkejut setengah mati. Kakiku yang hendak melangkah mendadak kaku dengan sendirinya. Tak ada ekspresi lain, selain mata melotot, mulut terbuka dan wajah yang tidak karuan. 

"Bagaimana kabarmu? Lama sekali rasanya kita tak berjumpa. Kota ini, aku sangat merindukannya." Ia tampak bahagia, itu jelas sekali tergambar di wajahnya.

"Aku?" Tanganku menunjuk diriku, aku salah tingkah. 

"Ehm." Dia menganggukkan kepala sambil tersenyum, "Kamu baik, 'kan?" 

 Aku mengangguk, sambil mencoba menata ulang kepercayaan diriku. Memberanikan diri untuk mulai bersuara. 

"Bagaimana jika kita ke cafe ini? Aku dengar cafe ini merupakan salah satu cafe salah satu cafe terunik di kota ini." Bicaraku sangat cepat 

"Juna, kamu baik-baik aja, 'kan?" Ia kembali memastikan Aku menghela napas panjang. 

Merasa begitu frustasi. Aku menatapnya lagi. 

"Halo, Shelin. Senang bisa melihat kamu lagi." Aku mencoba membangun ulang suasana 

"Senang bisa kembali ke kota ini." Jawabnya tersenyum 

"Aku pikir, cafe ini akan menjadi tempat yang lebih baik untuk kita menyambung kembali pembicaraan. Kamu keberatan jika mampir sebentar di cafe ini?" Aku berharap ia tidak menolak. 

"Tentu saja tidak, ayo masuk!" 

Ia melangkah lebih dulu meninggalkanku Aku bahagia mendengar ucapan itu. Kulangkahkan kakiku mengikutinya. Kami memilih meja yang dekat jendela. Dia bilang akan lebih menyenangkan bisa duduk sambil melihat kesibukan kota. Orang-orang tak hentinya berlalu lalang. Mobil, bus dan kendaraan lainnya juga tak pernah absen memadati kota, menyenangkan bisa menjadi pengamat setia. Seorang pelayan datang membawakan dua cangkir gelas berisi cokelat panas. Aromanya begitu nikmat ketika hidung ini menghirupnya. Ditambah suasana cafe yang sangat romantis. Lagu-lagu yang diputar, beberapa diantaranya merupakan lagu favoritku. Hari ini, cafe ini menawarkan sejarah baru dalam hidupku. 

"Silahkan!" Kata pelayan itu kemudian pergi meninggalkan kami 

Aku melihatnya meneguk cokelat itu lebih dulu. Aku memerhatikannya lamat-lamat. Diriku begitu terpesona dengan kecantikannya saat ini. Aku menyesal baru menyadari ini sekarang. Kemana saja diriku dulu? 

"Cokelat ini enak sekali Juna, kamu tak ingin mencobanya?" Serunya senang 

Aku diam sambil terus memerhatikan, 

"Aku sudah bosan dengan cokelat ini. Tetapi hadirnya kamu, aku pikir, aku akan meneguknya lagi sekarang." 

Kuambil cangkir berisi cokelat itu, kuteguk perlahan. Ucapanku tadi membuat raut wajah Shelin berubah. Ia terdiam. 

"Apa kata-kataku tadi menyinggungmu?", ia masih diam memilih meneguk cokelatnya kembali. 

"Maaf karena telah sering mengabaikan kamu, Shelin." Ucapku menatapnya, dia menghentikan meneguk cokelatnya. Menaruh cangkir itu kembali ke atas meja. 

"Maaf karena hanya bisa mengatakan ini. Aku memang bukan pria yang baik, bukan juga sahabat yang pengertian, aku bahkan sudah menyakiti hati sahabatku sendiri. Ini sangat menyedihkan."Aku sangat menyesal 

"Kenapa kamu tidak mengatakan "Aku merindukan kamu, Shelin atau aku mencintai kamu.", ehm?" Matanya berkaca-kaca 

"Ternyata Kakakku Atsa itu benar. Aku terlalu sibuk Rani dan lupa jika kamu tak pernah meninggalkanku." Suaraku mulai parau 

"Aku sudah mengubur masa lalu itu, Juna. Benar, bahwa kamu merupakan salah satu fakta tentang mengapa aku memilih pergi ke New York selama bertahun-tahun. Aku ingin melupakan kamu Juna. Aku ingin melakukan itu." Terangnya begitu meyakinkan Aku hanya menyimak perkataannya. 

"Tetapi, setelah mendengar kabar pernikahan Rani, aku semakin tak yakin ingin melupakanmu. Aku ingin kamu menemaniku, Juna." Ia menatapku yakin 

"Apa aku terlihat pantas untuk menjadi seseorang yang bisa menemanimu?" Kataku dengan mata berkaca-kaca 

"Tidak." Singkatnya, aku tersenyum padanya, 

" I love you, Shelin." 

Ia menitihkan air mata. Tersenyum bahagia. Aku beranjak dari kursi, berlutut di samping kursinya, 

"Maukah kamu menemaniku di sisa hidupku ini? Menjadi orang spesial yang akan terus menemaniku hingga rambutku memutih nanti?" Ia mencium dahiku mesra. Membelai kepalaku lembut. Aku tersenyum menatapnya. 

 "Terima kasih, terima kasih Shelin." Ucapku merangkulnya mesra Atsa benar. 

Walaupun dia seorang Kakak yang menyebalkan, tetapi apa yang diucapkan merupakan sebuah fakta yang nyata. Aku dan Shelin memang merupakan sahabat, dia sahabat dan cintaku yang paling mengerti aku. Aku memang bukan seorang pria sekaligus sahabat yang baik untuknya, namun mulai hari ini, detik ini, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya, memberikan cinta yang tiada henti setiap saat, aku ingin menembus dosaku di masa lalu. Cafe ini akan menjadi saksinya, saksi dimana aku dan Shelin berjanji untuk bersama sampai tua, sampai maut memanggil kami berdua. Selesai 

...

Biodata Penulis 
Hallo, namaku Shella Aisiyah Diva. Nama penaku adalah Diis Yosri. Aku mahasiswi jurusan Fisika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini aku tinggal di Komplek Perum.Polri Gowok Blok B No.73, Ambarukmo,Yogyakarta. Ini nomor CP-ku 082370039215. Nama Fbku Divas Ince dan twitterku ada di @Div_A_Shella. Terima kasi.
Share: