Sabtu, 27 Mei 2017

Selimut Kesengsaraan

Si rakyat jelata ...
Kau terlantar di bahu jalanan
Berjuang mengais untuk kehidupan
Tak ada gubuk, tak ada makanan
Semua hanya kesengsaraaan
            Ada cemas di dalam hati
            Menggebu menjadi sakti
            Jiwa raga juga tersakiti
            Karena tak bisa menikmati
Raut wajahmu penuh dengan belas kasihan
Tapi di bola matamu terpancarkan impian
Segala jiwa raga kau perjuangkan
Untuk masa depan yang menyenangkan
            Pagi, siang, malam kau tak istirahat
            Yang terpikir hanya raga yang sehat
            Tapi kau tak pernah berpikir untuk jahat
            Karena kau sadar itu perbuatan maksiat
Ya Ilahi
Kemana lagi kemakmuran itu pergi?
Tak ada kabar, tak ada lagi
Jurang kehidupan masih terasa lagi
Hanya kedukaan yang tak pergi
            Selimut metamorphosis takdir akan merubahnya
            Hanya tekad yang akan mewujudkannya
            Namun kehendak Tuhan yang akan menentukannya

            Supaya manusia tetap berjuang di jalan-Nya

Pengarang : Ernita Apriani
Share:

Sabtu, 20 Mei 2017

On Time

“Tuh kan bener, orang-orang kita memang nggak bisa kalau disuruh on time.” Seorang mahasiswa sampai ke tempat rapat sambil menggerutu.  Ia datang pukul 10.30. Rapat seharusnya dimulai pukul 10.00. Sudah menjadi kebiasaan di organisasi yang ia ikuti tersebut, rapat baru bisa dimulai satu jam dari jam yang tertulis di undangan. On time merupakan kata yang terlalu suci bagi mereka sehingga hanya satu dua saja yang sanggup melaksanakannya. Karena sudah hafal dengan kebiasaan ini, mahasiswa tadi sengaja datang terlambat dengan harapan ketika ia sampai, sudah banyak yang datang sehingga rapat bisa segera dimulai. Dengan begitu ia tidak perlu membuang-buang waktu dengan menunggu. Namun ternyata ia harus kecewa. Meskipun sudah berusaha telat ternyata masih ada yang lebih telat daripada dirinya.
Tidak hanya rapat saja. Hampir dalam setiap kegiatan yang mereka selenggarakan, entah itu seminar, diskusi, piknik, maupun makan-makan, tidak pernah ada yang bisa terlaksana sesuai jadwal dikarenakan para pelaksana kegiatan tidak sanggup datang tepat waktu. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Ketua organisasi memutar otak, mencari cara agar setiap kegiatan yang mereka selenggarakan bisa berjalan sesuai rencana. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan “penipuan”. Ia memiliki sebuah rencana yang licik. Ia akan memajukan jadwal setiap kegiatan untuk mengkompensasi para anggotanya yang tidak bisa on time. Jadi jika seharusnya kegiatan dimulai pukul 10.00, ia akan memerintahkan sekretarisnya untuk membuat pengumuman bahwa kegiatan dimulai pukul 9.00.
Ketua organisasi itu tersenyum penuh kemenangan. Ia benar-benar telah melaksanakan rencana liciknya itu. Hasilnya memang sungguh memuaskan. Sesuai rencana. Setiap kegiatan yang mereka selenggarakan termasuk rapat bisa berjalan dengan baik. Namun tidak selamanya. Anggota organisasi itu memang susah untuk on time, namun tidak semua. Tetap saja ada sebagian kecil yang sanggup melaksanakan titah suci itu. Lama kelamaan mereka menyadari bahwa mereka telah ditipu. Mereka sudah berangkat on time, sesuai dengan jam yang tertulis di undangan. Namun kini mereka tahu bahwa jam di undangan tersebut adalah bohong. Padahal mereka sudah meluangkan waktunya yang sangat berharga untuk datang on time. Tapi ternyata di tempat rapat mereka harus dizalimi. Yakni diminta untuk menunggu teman-temannya yang tidak on time.
Seiring berjalannya waktu, penipuan ini sudah tidak menjadi rahasia lagi. Sudah menjadi kebiasaan. Akibatnya, memajukan waktu sudah tidak bisa menjadi solusi lagi. Meskipun di undangan tertulis pukul 9.00, mereka semua tahu bahwa waktu yang sebenarnya adalah pukul 10.00. Oleh karena itu, mereka sengaja datang pukul 10.00 atau lebih. Kebiasaan tidak on time pun justru menjadi semakin parah. Ketua organisasi pun kembali melakukan makar. Jika seharusnya rapat dimulai pukul 10.00, ia akan menulisnya pukul 8.00. Awalnya berhasil. Tetapi lama-lama gagal juga. Ia pun menyadari hal ini, bahwa penulisan jam palsu tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan membentuk kepribadian yang buruk. Ia pun segera menghentikan kebiasaan ini. Jika rapat seharusnya dimulai pukul 10.00, ia akan tetap menulisnya pukul 10.00. Ia mengajarkan kepada anggotanya betapa berharganya waktu. Ia memberi contoh kepada anggotanya tentang datang on time. Ia selalu datang lebih awal daripada jam yang tertulis di undangan. Ia tetap bersabar meskipun sendirian di tempat rapat, menunggu anggota-anggotanya yang telat.
Seorang mahasiswa yang sengaja datang terlambat karena yakin teman-temannya juga akan terlambat adalah mahasiswa yang tidak tahu diri. Ia menggerutu, mengata-ngatai bahwa teman-temannya tidak bisa on time. Ia lupa bahwa dirinya juga tidak on time. Sejatinya ia sedang memaki-maki dirinya sendiri. Inilah sebenarnya penyebab kegiatan organisasi tak bisa terlaksana secara on time. Setiap anggota selalu berprasangka buruk kepada teman-temannya. Ibarat seorang penduduk desa yang membuang sampah di sungai. Ia berpikir bahwa tidak masalah jika dirinya membuang sampah di sungai. Sampah darinya tidak akan mampu menyebabkan banjir karena hanya sedikit. Namun sayangnya semua orang di desa itu berpikiran begitu. Akibatnya sampah yang menumpuk di sungai tidak lagi sedikit tetapi banyak. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi banyak.

Jadi, marilah kita berhenti berprasangka buruk kepada teman-teman kita. Tidak usah terlalu memikirkan apakah mereka bisa on time atau tidak. Yang terpenting adalah diri kita sendiri harus bisa on time. Sebab on time tidaknya suatu acara sangat bergantung pada on time tidaknya kita. Jangan takut dan jangan malu untuk sendirian di tempat rapat. Sebagian dari kita sengaja datang terlambat karena takut kalau di tempat rapat belum ada orang. Akhirnya kita memilih untuk mengunggu yang lain datang baru kita datang. Sayangnya semua orang malah saling menunggu. Cukup…cukup sudah, it’s time to STOP. Marilah kita akhiri kebiasaan buruk ini. Sudah saatnya bagi kita untuk menjadi pribadi yang ON TIME.

Pengarang : Wahyu Nurodin

Share:

Sabtu, 13 Mei 2017

Sepotong Kisah dari Hujan





Ro memilih menyerah. Ini sudah sekian kalinya ia berusaha maksimal, namun semuanya masih terus sama. Ini berat,tetapi terlalu berat untuk terluka terus-terusan. Mereka memang sudah tak sejalan. Terlalu banyak hal yang bertolak belakang hingga membuat mereka sulit menjadi sama.
"Jadi, beginikah akhirnya?"
Ro masih diam seribu bahasa. Otaknya sedang berkecamuk tidak karuan.
"Tak adakah cara lain untuk menyelesaikan ini?" ia masih penuh harap
Tak ada sepatah kata pun yang mampu diutarakan Ro. Ia masih terus bungkam dan mengalihkan pandangannya ke lain arah. Pria itu pun ikut diam. Tak lagi ada sepatah kata pun yang mampu ia katakan. Pandangannya juga terus dialihkan ke depan. Tidak ada interaksi yang terjadi di antara mereka selama beberapa menit. Semua memilih untuk bertahan pada kebungkaman masing-masing.
"Mari, kita bicara sambil berjalan saja." ajak pria itu beranjak dari kursi
Ia pun memilih jalan lebih dulu. Tidak ada pilihan lain, hingga Ro memutuskan untuk bangkit dan mengikutinya dari belakang. Mereka pun mulai meninggalkan kursi taman itu. Sepatah kata pun bahkan tidak terlontar sepanjang mereka berjalan.
"Kita sering mengunjungi taman ini, namun kita tak pernah sekali pun berjalan mengitarinya. Lucu, ya?" kata pria itu sambil tersenyum
"Meskipun kita harus mengitarinya dengan keadaan seperti ini, aku sungguh tak pernah menyesalinya."
Ro menghentikan langkahnya, "Zis?" sebut Ro
Azis menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya, "Ssstt!" kata pria yang bernama Azis itu
"Mari kita selesaikan satu-satu. Untuk saat ini, hal pertama yang harus kita selesaikan adalah mengitari taman ini." Azis berjalan lagi
Ro mengalah dan memilih mengikuti kemauan Azis. Tidak menyenangkan memang, namun ia harus tetap menghormati perasaan Azis. Langkah demi langkah yang mereka pijakkan, akhirnya membawa mereka ke kembali ke kursi tadi. Azis sempat berdiam agak lama di depan kursi itu. Ia bahkan menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ro berusaha bersabar dan tidak mengatakan apa-apa. Beberapa saat kemudian, Azis terdengar menghela napas. Entah mengapa Ro begitu lega mendengarnya. Azis kembali menegakkan kepalanya, pria tampan itu lalu duduk di kursi. Ro pun juga ikut duduk. Lagi-lagi mereka bungkam satu sama lain.
"Apa aku harus benar-benar melepaskanmu, Ro?" tanya Azis
"Aku juga akan melakukan hal yang sama, Zis." jawab Ro dengan nada lembut
"Aku pun juga akan mencoba untuk benar-benar melepaskanmu." pandangan Ro tertuju ke Azis
"Setelah kita bersama-sama melepaskan satu sama lain, apa kamu yakin kita akan bahagia setelahnya? Kamu yakin itu Ro?" Azis balik menatapnya
"Tidak ada yang tahu kapan kebahagiaan itu akan hadir dalam hidup ini. Mungkin kita akan bahagia, namun mungkin juga tidak." Ro mengalihkan pandangannya ke depan
"Baiklah, sekuat apapun aku berusaha meyakinkanmu bahwa melepaskan bukanlah cara yang tepat, kamu pasti tetap tidak akan mendengarkan." ujar Azis
"Zis!!" ucap Ro sedikit keras                                               
Azis terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ro menghela napas panjang. Azis terlihat putus asa. Ia juga terlihat begitu sulit untuk menerima kenyataan pahit seperti ini. Hingga membuatnya tak kuasa lagi menahan buliran air mata yang sudah ingin jatuh. Tanpa mengatakan apapun, Azis pergi begitu saja. Ro bahkan tak mampu mencegahnya. Ia pun juga ikut pergi meninggalkan kursi taman itu.
Esok harinya...
Ro kembali menuruti kemauan Azis agar mereka dapat bertemu kembali. Kali ini, lokasi pertemuan mereka pindah ke cafe tempat biasa mereka makan bersama. Ro datang tepat ketika jarum panjang menunjuk angka satu. Ro tampak begitu cantik dengan balutan baju gamis berwarna merah jambu yang dipadu dengan hijab warna biru. Azis sudah menunggunya di meja tempat mereka biasa makan. Tak kalah dengan Ro yang tampil cantik, Azis pun tampak begitu tampan dengan perpaduan kemeja panjang berwarna biru gelap dengan celana jeans berwarna hitam. Ro langsung menghampirinya. Mereka berdua tampak begitu kikuk. Azis pun langsung mengambil inisiatif untuk memesan minuman favorit mereka. Begitu pelayan itu pergi, suasana kembali hening. Namun Azis kembali mengambil iniatif lebih dulu.
"Aku pasti sudah banyak membuang-buang waktumu. Maafkan aku,Ro." ucap Azis dengan nada menyesal
"Mari kita selesaikan ini, Zis." kata Ro
"Aku tak ingin kita memilih jalan ini."
"Zis!" Ro mulai tegas
"Apa kamu tahu betapa hancurnya perasaanku ketika harus memutuskan ini? Sedikit saja, hargai perasaan kita masing-masing. Lupakan ego kita yang tak beralasan itu. Aku tidak memutuskan ini untuk membuat kita berdua menderita. Aku ingin kamu bahagia!"
"Bahkan jika takdir sekalipun yang menginginkannya, jawabanku tetap akan sama. Hingga akhir hayatku, aku akan tetap merengkuhmu!"
Ro kehabisan kata-kata. Ia terus menunduk sambil memegangi kepalanya. Buliran air mata pun jatuh membasahi pipinya. Suasana kembali hening. Azis pun juga ikut-ikutan frustasi. Semua jalan seakan tertutup untuk masalah mereka ini. Pelayan akhirnya datang membawa minuman favorit mereka.
"Minumlah ini, meskipun takkan mampu mengubah apapun, setidaknya kamu takkan dehidrasi karena terus-menerus meneteskan air mata."
Mata Ro langsung melirik tajam Azis. Meskipun dipelototi, Azis tampak santai dan tenang sekali.
"Apa terlalu berat bagimu untuk meminum ini?"
"Ayo kita selesaikan ini!"
Tatapan Ro begitu serius. Azis menanggapinya dengan senyuman.
"Apa aku terlihat seperti orang yang ingin berpisah denganmu?" tanya Azis balik
"Ini semua terlalu membuang-buang waktu." Ro langsung pergi
Azis kesal melihat ketidakmampuannya untuk mencegah wanita yang ia cintai pergi. Ia pun menghela napas berat.
Malam harinya...
Azis memberanikan dirinya untuk datang ke rumah Ro. Ia tahu hal ini tetap tidak akan berhasil untuk membujuk wanita pujaannya itu. Namun ia tidak ingin mereka berpisah. Itu bukan jalan yang tepat. Azis menekan hel rumah itu. Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu untuknya. Azis cukup terkejut ketika tahu siapa yang membuka pintu untuknya. Ia mendadak gugup. Namun tidak demikian pula dengan si pembuka pintu. Ro terlihat tidak begitu senang begitu tahu siapa tamunya.
"Maafkan aku, Ro." ucap Azis penuh penyesalan
"Aku tidak bicara denganmu sampai kamu memberikan jawaban." tegas Ro
"Apakah kamu begitu memerlukan jawaban itu?"
Ro diam.
"Tolong pikirkan cara yang lain." sambung Azis
Wanita itu enggan menjawab. Azis mulai menyerah membujuk Ro.
"Ro?" sebut Azis
"Kita akan bicara kalau kamu sudah memberikan jawaban." Ro langsung pergi dan menutup pintunya
Azis terpaksa pulang dengan tangan hampa.


To be continue...

Pengarang : Dis Yosri

Share:

Kamis, 23 Maret 2017

Kamis, 22 Desember 2016

Bumi Bulat VS Bumi Datar

Oleh: Rosyid Ridlo Al Hakim
Bumi merupakan salah satu planet dalam sistem tata surya kita, yang juga berada didalam  galaksi kita yaitu galaksi bimasakti. Sejak kita menginjakkan kaki di sekolah dasar (SD) pasti teringat guru IPA kita berkata bahwa, “Bumi kita itu bulat, seperti bola, begitu planet-planet yang lainnya dan juga matahari”. Memang benar, tidak ada yang salah, hanya saja hal ini sedikit kurang tepat. Dalam konteks keilmuan sains modern saat ini, bumi kita ialah berbentuk bulat pepat (oblate spheroid), atau lebih jelasnya bulat dan sedikit gendut di daerah katulistiwa. (Didit Hadi Barianto, ST, M.Si, D.Eng. dalam talkshow-nya “Flat Earth Talkshow: Bincang-Bincang Bumi Bulat”, Fak. Geografi UGM, 2016). Bumi berbentuk bulat sudah lama diteorikan sejak zaman Pythagoras (500 SM), Claudius Ptolemy, dan Christopher Colombus  (1451-1506) yang menemukan jalan pintas ke Hindia (Indies) berlayar ke arah barat.
Mungkin sempat terpirkirkan dalam benak anda pertanyaan berikut :
  • Benarkah waktu bumi ialah 24 jam, mengapa tidak kurang dan tidak lebih?
  • Lantas, sejauh apa kita mengenal bumi kita sendiri? Tempat tinggal abadi selama-lamanya? Atau hanya sebatas tempat tinggal di suatu planet, yang lantas kedepannya akan pindah ke planet lain untuk dihuni? Lalu akan dikemanakan bumi kita ini?
Namun, sebelum menjawab pertanyaan diatas sebelumnya kita kembali ke pernyataan seperti apakah bentuk bumi?. Bumi kita ini berbentuk bulat pepat, karena itu  jari-jari yang mengarah ke kutubnya lebih pendek dari jari-jari yang mengarah ke katulistiwa/ekuator. Dikarenakan di daerah ekuator sedikit menonjol, membuat diameter ekuator menjadi 12.757 km, sedangkan diameter melalui kutub sekitar 12.714 km. Bumi kita ini, memiliki sudut kemiringan 23,50 derajat terhadap garis tegak lurus , dengan arah rotasi berlawanan jarum jam jika dilihat dari utara atau berputar ke arah timur. Perputaran bumi dengan sumbunya itu mengakibatkan terjadinya peristiwa siang dan malam, dengan lama satu kali perputaran 23 jam, 56 menit, 4.091 sekon atau jika kita genapkan menjadi 24 jam. Bumi kita ini apabila dipandang dari angkasa akan seperti batu bercahaya.
Eratosthenes (276-194 SM) dengan melihat perbedaan kemiringan bayangan di dua kota yang berbeda di waktu yang sama sudah dapat mengukur keliling bumi dan menyadari bahwa bumi itu bulat. Pada waktu itu Erathoshenes mengkalkulasikan bahwa keliling bumi ialah 46,100 km yang apabila dibandingkan dengan perhitungan modern hanya berselisihkan 16%.
Bumi diperkirakan lahir 4,5 miliar tahun yang lalu. Angka ini didapat dari analisis berbagai isotop timah di bumi dan meteorit. Dari analisis tersebut ditemukannya radioaktif. Melalui hitungan peluruhan (decay), bumi mengandung material radioaktif: α (alpha), β (beta), dan γ (gamma). Melalui perhitungan Peluruhan (decay) ini didapatkan umur batuan di bumi ini yang tertua berumur 4.4 milliar tahun, tetapi umur bumi lebih tua daripada batuan.

Beberapa planet yang telah diteliti oleh para Astronom, Astrofisikawan, dan Ahli Geologi menemukan unsur-unsur yang mendukung adanya kehidupan, baik itu yang terjadi dalam kurun waktu yang telah lampau, atau hasil analisis material dari sample yang dikirim wahana antariksa di planet yang bersangkutan. Tetapi hingga saat ini, belum ditemukannya kehidupan selain planet bumi, namun telah ditemukan beberapa planet yang ‘layak dihuni’.
Matahari kita yang merupakan pusat Tata Surya dengan diameter sekitar 14 x 10km atau 109 kali diameter bumi, bermassa 333.400 kali massa bumi atau sekitar 1,99 x 1030 kg, dan rata-rata densitas(kerapatan) matahari rata-rata 1,41 g cm-34 kali lebih rendah daripada densitas bumi, ini merupakan  pusat perputaran (revolusi ) planet-planet di tata surya kita ini  .
Dari bukti-bukti fakta diatas, bumi dapat dikatakan bulat pepat, bulat dengan sedikit gendut pada daerah ekuator. Kemudian, bagaimana mengenai teori bumi datar (flat earth)?

Bumi Datar

Teori bumi datar muncul kembali dikarenakan bangkitnya lagi Flat Earth Society pada tahun 2009 setelah sempat runtuh pada tahun 1990 yang dikarenakan terbakarnya markas besar Flat Earth Society. Kembali ke permasalahan, mengapa bumi bisa dikatakan ‘datar’? Bukankah bumi bulat sudah terbukti kebenarannya? Dengan pengukuran, serta eksperimen para ahli untuk mengukur diameter bumi?
Mari berbicara dengan logis.  Bumi dapat dikatakan datar karena pada jarak pandang manusia di suatu tempat di bumi, terbatas hanya beberapa ratus meter kedepan. Atau melalui pengamatan suatu hal, semisal kapal yang berlayar di laut. Sejak dari pesisir pantai kita melihat jelas ukuran kapal tersebut, kemudian kapal tersebut berlayar menjauhi kita dan mengarungi lautan, mata kita tidak seterusnya dapat melihat kapal tersebut, lalu muncul asumsi bahwa ketinggian tempat akan dapat membuktikan bahwa jarak pandang mata manusia akan sama seperti kondisi awal ketika kapal masih berada di pesisir atau pinggir pantai, terbukti kapal masih terlihat.
Bumi datar, dengan matahari berada di atas bumi, ketika kita berfikir logis, ukuran matahari yang besarnya 109 kali diameter bumi berada tepat diatas bumi yang terbentang datar, apakah akan terjadi waktu malam hari? Ataukah akan terus menerus siang hari? Lantas bagaimana cara kita mengamati benda langit? Karena hanya akan dapat diamati ketika kondisi cahaya di bumi sedikit. Dengan menjadikan ukuran matahari lebih kecil, bahkan jauh lebih kecil dari ukuran semua yang berdiameter 109 kali diameter bumi. 
Matahari dan bulan berada di atas bumi yang datar. Dengan posisi matahari dan bulan bergantian dan berurutan memutari bumi, keliling searah jarum jam, sehingga terjadinya siang dan malam tetap terjadi. Kondisi seperti ini, mampukah matahari yang ‘mini’ ini menyinari tata surya menuju merkurius, venus, yang kemudian bumi? Jika matahari hanya berputar-putar diatas bumi yang datar itu, lantas merkurius dan venus akan dibantah teorinya bahwa kedua planet tersebut tidak layak huni dikarenakan suhu permukaan yang sangat panas. Karena matahari tidak menyinari kedua planet tersebut secara dekat. Tetapi lihat, matahari sangat dekat jaraknya dengan bumi, dan begitu pula dekat dengan bulan.
Kutub utara berada di tengah bumi datar dan kutub selatan menjadi pagar yang mengelilingi/ melingkari bumi. Hal ini akan menjadikan jelas luas wilayah kutub selatan atau Antartika  menjadi berkalikali lipat lebih luas daripada kutub utara atau Arktik. Ada suatu wilayah di daerah Antartika, yang batas tersebut dijaga ketat oleh tentara Amerika Serikat, dan tidak ada satupun orang yang dapat melewati batas terlarang tersebut. Kekuasaan wilayah? Atau hanya perlindungan wilayah karena kekayaan alam disana sangatlah melimpah.
Gravitasi bumi, yang telah lama dicetuskan oleh Sir Isaac Newton  tidak akan berlaku dalam teori bumi datar. Karena datar, sifat medan gravitisi yang kesegala arah akan menghasilkan gaya gravitasi yang berbeda beda di tiap tempat. Apabila datar gaya tarik bumi di ujung bumi akan jauh lebih lemah dari pada yang berada pada pusat bumi. Namun, kenyataannya tidak.
Dari artikel di atas dapat kita kesimpulan Bumi dan planet-planet lain baik di dalam Tata Surya maupun di “Tata Surya” lain berbentuk bulat, dengan ukuran yang berbeda-beda, serta masing-masing memiliki percepatan gravitasi tersendiri yang berbeda beda. Bumi datar tidak dapat membuktikan beberapa hal yaitu1. Teori lempeng tektonik, 2. Perbedaan musim, 3. Tidak dibutuhkan proyeksi peta. Bumi dapat dikatakan datar jika untuk pengukuran selama 20 menit, selebihnya maka bumi berbentuk melengkung. Sekali lagi, bumi berbentuk bulat dempak.
Sebagai tambahan, Sains dapat bersifat Dogmantis jika persepsi pemahaman sangat lemah, Sains dapat bersifat Hipotesis jika hanya sebatas dugaan semata, Sains dapat bersifat Teoretis jika hasil dari dugaan dan eksperimen telah ditentukan.
Referensi:
Bayong Tj. HK., 2013. Ilmu Kebumian dan Antariksa, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Chang Raymond, 2005. General Chemistry: The Essential Concepts Third Edition, USA, McGraw-Hill. Alih bahasa: Departemen Kimia: Institut Teknologi Bandung, Penerbit Erlangga.
Ishaq Mohamad, 2007. Fisika Dasar: Edisi 2, Yogyakarta, Graha Ilmu.
Yusuf H. Muhammad bin Abdurrahman, 2013. Keajaiban Sains, Yogyakarta, DIVA Press.
Share:

Embun Pagi

Tuhan, aku ingin tersenyum
Walau hanya di pagi hari
Agar bisa kurasakan
Hangatnya sinar mentari

Tuhan, aku ingin tersenyum
Bersama awan yang menutupi mentari
Bersama malam sunyi nan sepi
Dalam bait-bait puisi

Tuhan, aku ingin tersenyum
Tanpa peduli rintik air hujan
Atau detak jarum jam
Yang mengawasiku di sudut ruangan
Dan berkata bahwa hidup memang kejam

Tuhan, aku ingin tersenyum
Biarkan aku di sini
Duduk diatas daun talas
Menulis sajak-sajak rindu
Untuknya, embun pagi





Ditulis oleh:
Wahyu Norrudin
Prodi fisika
Share: